LIVE 17 Sep 2026 RSS
Informasi yang bergerak bersama waktu.
TERKINI
Jelang HUT ke-36, JNE Gandeng Muklay Sulap Armada Pengiriman Jadi Galeri Seni BerjalanPolres Dumai Gelar Sertijab Tiga Pejabat, Sejumlah Jabatan Strategis BergantiPelindo Dumai Nilai Dumai Semarak Merdeka Perkuat Kreativitas dan Potensi MasyarakatKaur Pemdes Tasik Tebing Serai Jadi Tersangka, Diduga Kuasai dan Jual Lahan di Kawasan KonservasiBaru Usai Turn Around, Dentuman Keras Menggema: Ada Apa di Pertamina RU Dumai?BMKG Prediksi Hujan Lebat di 7 Wilayah Riau, Potensi Terjadi dari Pagi hingga MalamHujan Merata di Riau, Titik Karhutla Besar PadamDiduga Edarkan Pil Ekstasi, Pria 24 Tahun Diamankan Polisi di DumaiBukan Sekadar Marka, LPPH Riau Bongkar 14 Pertanyaan di Balik Proyek Gang Sempit di DumaiProyek Jalan Datuk Laksamana Ujung Hampir Rampung, Papan Informasi Tak Kunjung Terlihat, Publik BertanyaJelang HUT ke-36, JNE Gandeng Muklay Sulap Armada Pengiriman Jadi Galeri Seni BerjalanPolres Dumai Gelar Sertijab Tiga Pejabat, Sejumlah Jabatan Strategis BergantiPelindo Dumai Nilai Dumai Semarak Merdeka Perkuat Kreativitas dan Potensi MasyarakatKaur Pemdes Tasik Tebing Serai Jadi Tersangka, Diduga Kuasai dan Jual Lahan di Kawasan KonservasiBaru Usai Turn Around, Dentuman Keras Menggema: Ada Apa di Pertamina RU Dumai?BMKG Prediksi Hujan Lebat di 7 Wilayah Riau, Potensi Terjadi dari Pagi hingga MalamHujan Merata di Riau, Titik Karhutla Besar PadamDiduga Edarkan Pil Ekstasi, Pria 24 Tahun Diamankan Polisi di DumaiBukan Sekadar Marka, LPPH Riau Bongkar 14 Pertanyaan di Balik Proyek Gang Sempit di DumaiProyek Jalan Datuk Laksamana Ujung Hampir Rampung, Papan Informasi Tak Kunjung Terlihat, Publik Bertanya

Daratan Mundam Terus Terkikis,

Warga Dihantui Ancaman Kehilangan Rumah

Warga Dihantui Ancaman Kehilangan Rumah
Kondisi bibir pantai di sepanjang di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai (f: tim) 

jejakredaksi.com — Ancaman bencana abrasi (pengikisan) air laut di wilayah Kelurahan Mundam kian mengkhawatirkan. Laju penggerusan daratan oleh gelombang laut dilaporkan semakin masif dan kini telah mendekati badan jalan bawah yang menjadi akses utama masyarakat di kawasan permukiman tersebut.

Kondisi ini menimbulkan kecemasan mendalam bagi ratusan warga setempat. Mereka khawatir tidak hanya kehilangan lahan tempat tinggal, tetapi juga terputusnya akses transportasi yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan pantauan di lapangan, gelombang laut yang terus menghantam garis pantai tidak hanya mengikis bibir pantai, tetapi juga telah menelan sejumlah lahan produktif milik warga. Area yang sebelumnya berupa daratan dan perkebunan kini berubah menjadi perairan akibat abrasi yang terjadi secara terus-menerus tanpa penanganan permanen.

Perwakilan masyarakat, Dato' Junaidi dari KKSI (Kekerabatan Kesultanan Siak Sri Indrapura), mengungkapkan bahwa laju abrasi dalam beberapa waktu terakhir meningkat signifikan.

“Tanah warga sudah banyak yang hilang tergerus air laut. Jika tidak segera ditangani, jalan bawah ini tinggal menunggu waktu untuk ambles dan terputus,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Masyarakat Mundam pun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat. Mereka mendesak agar langkah konkret segera diambil guna mencegah kerusakan yang lebih luas.

Sejumlah upaya penanganan yang dinilai mendesak antara lain pembangunan tanggul atau pemecah gelombang (breakwater) untuk meredam energi ombak sebelum menghantam daratan, rehabilitasi ekosistem mangrove sebagai penahan alami abrasi, serta pemasangan bronjong atau batu gajah di titik-titik kritis yang berbatasan langsung dengan badan jalan.

Warga menilai, tanpa intervensi cepat dari instansi terkait, abrasi berpotensi semakin meluas dan tidak hanya mengancam permukiman, tetapi juga memutus akses mobilitas serta menimbulkan kerugian ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. (*)

Penulis: Bambang/ Irwan